Pendidikan Multikultural: Implementasi dalam Pembelajaran di Sekolah

Indonesia disebut sebagai negara multikultural, maka konteks negara multikultural yang dibangun ini pun tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Hal ini karena dalam sekolah pun berada dalam lingkungan kultural yang unik dengan keberagaman mulai dari perbedaan suku, ras, budaya hingga agama. Dibeberapa daerah di Indonesia kemajemukan ini sangat nyata adanya, seperti halnya di Kota Makassar, peserta yang menempuh pendidikan meskipun mayoritas bersuku Makassar, tetapi ada juga peserta didik yang bersuku Bugis, Mandar, Toraja, Betawi, Sunda dan suku lainnya. Dalam perbedaan agama pun terlihat ada perbedaan yakni peserta didik ada yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha maupun agama lainnya.

Pada masa sekolah, anak sebagai peserta didik terutama bagi peserta didik pada tingkatan rendah seperti SD dan SMP masih dalam masa belia, olehnya itu potensi yang dimiliki anak perlu didorong agar potensinya berkembang secara optimal. Masa-masa ini adalah masa ke- emasan maupun masa kritis bagi perkembangan anak. Olehnya itu anak sangat perlu mendapat perhatian dan pengasuhan. Keberagaman yang ada ini disinyalir dapat menumbukan benih-benih konflik pada anak. Peserta didik pada kelas dasar cenderung belum bisa menerima hal-hal yang berbeda dengan dirinya dan juga mudah terprovokasi dengan teman sebaya. Salah satu hal yang cenderung menimbulkan adanya gesekan antara satu dengan yang lainnya adalah mereka belum mampu memahami karakter, sifat dan sikap orang lain. Jika dibiarkan hal ini akan memicu anak melahirkan sikap tidak menghormati, kurang menghargai dan juga sikap tidak toleran.

BACA:  Keterampilan Abad 21, Relevansi terhadap Empat Pilar Pendidikan

Keberagaman suku bangsa ini menjadikan multikultural sebagai suatu kekuatan dan pemersatu bangsa, disisi lain konfilik sosial yang bernuasa SARA masih ada. Dari banyak studi disebutkan bahwa hal ini dipengaruhi oleh lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya dan masih kurangnya kemauan pada diri individu untuk mengahargai perbedaan ditengah masyarakat. Hal ini berakibat kepada berkembang dengan mudahnya sentimen-sentimen antar masyarakat sehingga timbul sikap primordialisme dan etnosentrisme yang memicu konflik-konflik di Indonesia yang beragam.

Pendidikan perlu mengambil peran dalam menjaga dan memperkokoh persatuan bangsa. Menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan dalam mengembangkan konsep multikultural dengan menjadikan sekolah sebagai institusi untuk menginternalisasikan nilai-nilai positif yang sesuai dengan norma dan budaya kepada peserta didik. Perkembangan masyarakat dan pendidikan menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan karena kemajuan suatu masyarakat ditentukan oleh pembangunan sektor pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Demikian pula halnya pendidikan hendaknya turut andil dalam memberikan tawaran-tawaran yang mencerdaskan, seperti desain materi pelajaran yang didalamnya termuat nilai-nilai multikultural serta metode pembelajaran hingga kurikulum yang mendukung. Sehingga kedepannya peserta didik mampu peka dalam menghadapi gejala dan permasalahan sosial akibat perbedaan tata nilai yang terjadi dimasyarakat. Pendidikan multikultural berusaha menyajikan kurikulum dimana para siswa dimana para siswa diberikan materi yang berisikan nilai-nilai kehidupan akan beragaman (Sitorus, 2012). Penguatan nilai-nilai multikultural diharapkan dapat meminimalisir potensi konflik dalam masyarakat plural. Olehnya pendidik perlu membuat strategi pembelajaran dengan menanamkan nilai-nilai multikultural yang terintegrasi pada pembelajaran dikelas dan terciptanya iklim sekolah yang sarat akan nilai-nilai keberagaman.

BACA:  Geopark Maros Pangkep Resmi Ditetapkan UNESCO, Dewan Pendidikan Kab Maros Apresiasi Kolaborasi Triple Helix

Maka dengan adanya pendidikan yang berwawasan multikultural ini diharapkan menjadikan peserta didik mampu menerima perbedaan, terutama terkait dengan identitas diri, lingkungan dan orang yang ada di sekitarnya. Sehingga mampu mengimplementasikan dengan menerima perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga anak mampu bersosialisasi dengan baik, sikap tenggang rasa dan toleransi.

Muallim

STIA Abdul Haris

Baca Juga https://akademia.abdulharis.ac.id/110/literasi-digital-strategi-membangun-kecerdasan-bermedia-sosial/

Related Posts