Aisyiyah, Camba, dan Puang Bau Nurhayati

Akademika.abdulharis.ac.id, Turikale – Taman Kanak-kanak itu masih tetap berdiri megah di sana. Bayangannyapun tetap utuh terpatri dalam ingatan.

Hanya satu yang tidak ada lagi, tokoh pelopor dan penggeraknya. Saya lafadzkan dengan takzim, Andi Nurhayati Baddare Situru Puang Bau. Maka, ketika ada yang memberi nama jalan dengan menuliskan kata “pendidikan” saya protes. Kenapa bukan nama orang tua kita yang dipasang di situ.

Iya, saya jauh dari jalinan darah sebagai anak biologis. Secara sepihak saya mengakui, saya anak ideologisnya. Sejak awal mengenal dan mengeja huruf. Beliau ada di sana bersama dengan kita semua.

Bahkan ketika ibunda saya wafat. Tidak tahu kemana saat itu mengadu kesedihan. Saya datang kepadanya dengan setumpuk kesedihan itu.

Saya sangat memahami bahwa beliau adalah bangsawan. Lahir dari pejuang kemerdekaan yang salah satu panggilannya Arung Sawaru. Hanya saja, saya berani mengakui sebagai bagian dari pikiran-pikiran beliau, dimana walau sebagai bangsawan selalu saja kami yang bukan dari kalangan arung tetap disapanya dengan panggilan kesayangan “anak”.

BACA:  Peran Masyarakat dalam Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Dalam pelbagai kesempatan, saya bisa berdiri tegak dengan sokongan beliau. Usai merampungkan Pendidikan sarjana, sembari menunggu keberangkatan ke Pulau Jawa waktu itu, saya diminta mengajar di TPA Masjid Al Mubarak.

Belum lagi, kesempatan untuk turut serta dalam kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan di panti asuhan. Wadah inilah yang justru menjadi rumah bagi pengungsi Timor Leste usai referendum yang akhirnya memisahkan Indonesia dan Dili.

Tidak ada bentangan geografis yang berseberangan. Tetapi atas nama solidaritas kemanusiaan, beliau tetap bersedia menampung para pengungsi yang belum dapat tempat di Makassar. Justru, 89 kilometer dari Ujung Pandang, tempatnya tersedia di Camba.

Saya mengetikkan ini dengan menahan linangan air mata. Betapa kerinduan kepada sosok beliau yang selalu abadi dalam sanubari.

Hari Pendidikan, Aisyiyah, dan Camba

Aisyiyah Bustanul Athfal disingkat ABA kini sudah berjumlah 14 tempat. Sebagian besar dirintis ketika Puang Bau hidup. Sayapun melihat tempat-tempat pelaksanaan salat idulfitri yang diselenggarakan Muhammadiyah bersama masyarakat Camba.

Salah satu penerima Anugerah Tokoh Pendidikan Maros 2023 adalah ketua Aisyiyah Camba, Dra. Fatmawati. Saya mendapatkan konfirmasi bahwa tetap ada pertambahan ABA selepas beliau wafat dengan lokasi di Maddenge, dan sementara proses persiapan di Sepe.

BACA:  Dewan Pendidikan Kabupaten Maros Ikut Serta Dalam Safari Ramadan di Moncongloe

Komitmen Aisyiyah (dengan dukungan pemerintah) termasuk di Camba, dalam dunia pendidikan menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan organisasi. Penyediaan lembaga-lembaga taman kanak-kanak menjadi bagian dari gerak langkahnya.

Walau kini Aisyiyah juga mengelola perguruan tinggi, namun awalnya justru dengan keberadaan ABA yang berada di seentaro Camba. Mulai dari Kappang yang berbetasan dengan Simbang, sampai di Abbalu yang berbatasan dengan Bone. Dahulu, Abbalu merupakan wilayah yang juga masuk dalam geografis Camba.

Setahun lalu, berkunjung ke Tajo. Di tengah persawahan sana, tetap juga hadir ABA. Memberikan dukungan bagi tumbuh kembang anak-anak. Lagi-lagi, Aisyiyah bersama seluruh komponen bangsa senantiasa punya energi yang berlebih untuk memperluas akses pendidikan.

Saya sudahi ketikan ini, bukan karena ceritanya sudah habis. Air mata di dua kelopak, tidak lagi dapat terbendung. Teriring Alfatihah untuk beliau, Puang Bau kita semua, guru bagi anak-anak Camba.

Related Posts