Perguruan Tinggi, dan Tantangan Pengembangan SDM

Menjadi seorang guru, maka standar kelayakan Pendidikan saat ini adalah sarjana. Sementara untuk menjadi dosen, maka paling tidak menyelesaikan pendidikan magister.

Hanya saja, itu soal keilmuan. Namun, kemampuan transfer of knowledge, hanya pada persyaratan mengikuti pelatihan pekerti dan AA.

Sekarang, mari kita lihat. Betapa peliknya problematika perguruan tinggi. Dimana kita memiliki fakultas teknik, tapi tak mampu memproduksi sepeda motor. Masih tetap saja mengandalkan teknologi Jepang.

Sementara sarjana pertanian kita, memiliki ragam kemampuan. Justru core keilmuannya, menjadi petani tidak dikuasainya. Saya bertanya ke kolega “berapa banyak alumni jurusan pertanian yang menjadi petani?”. Jawabannya sudah diduga bahkan tanpa dijawab sekalipun.

Pada kondisi-kondisi seperti inilah perguruan tinggi perlu gelisah. Sebagaimana kegelisahan pada rangking, scopus, dan atribut lainnya.

Tetap saja, dalam kepentingan tertentu ada keperluan untuk menggunakan tolok ukur semua tadi soal rangking, scopus, dan juga sitasi.

Akan tetapi ini tidak bisa menjadi satu-satunya fokus. Pada saat yang sama, bagaimana perguruan tinggi kita memajukan masyarakat. Justru dengan keberadaan masyarakat itulah yang menjadi jiwa bagi keberadaan perguruan tinggi.

BACA:  Turkiye, Perjumpaan Masa Lalu di Masa Kini

Bolehjadi, dengan kondisi yang digambarkan di awal bahwa untuk menjadi seorang guru di tingkatan sekolah dasar saja diperlukan kemampuan sarjana.

Padahal, justru pendidikan tinggi hanya diperlukan magister. Bahkan pada masa lalu, juga seorang sarjana. Sehingga ini perlu menjadi sebuah diskusi dimana untuk keperluan SDM perguruan tinggi, jangan hanya setingkat lebih tinggi dengan kualifikasi yang akan dihasilkan.

Apa yang ada saat ini, perlu mendapatkan perhatian. Termasuk sentuhan inovasi. Perguruan tinggi kita seiring waktu melalukan transformasi kelembagaan. Berawal dari akademi ataupun sekolah tinggi.

Kini beralihstatus menjadi institut atau perguruan tinggi. Setidaknya, bukan saja status kelembagaan yang beralih. Diperlukan pula, perubahan kapasitas dan juga orientasi yang memungkinkan upaya-upaya memajukan masyarakat tetap terjaga.

Ismail Suardi Wekke
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi
Abdul Haris

Related Posts