Turkiye, Perjumpaan Masa Lalu di Masa Kini

Sehari sebelum penerbangan kembali ke tanah air, kesempatan duduk di bangku perpustakaan distrik Uskudar. Wilayah Asia, Turkiye dengan bibir pantai pada selat Bosphorus yang mengantarai Asia Eropa.

Perpustakaan yang juga menjadi sebuah lokasi untuk menikmati kuliner Turkiye. Termasuk cay yang menjadi minuman kesemenitan warga. Kedekatan antara cai dan warga, terlihat bahkan Ketika mengemudi sekalipun. Seorang pengemuda taksi yang tetap ditemani cay walau mengemudi dengan kecepatan di atas 60 km/jam.

Begitu pula ketika berhenti di otogar antar kota. Sepuluh menit yang tersedia digunakan untuk menyeruput cay, walau diletakkan di atas dashboard bis.

Pertemuan demi pertemuan selalu diakhiri dengan cay, kecuali di fakultas pendidikan Bursa Uludag University dimana disajikan kopi. Itupun diawali dengan adanya tawaran antara cay atau kopi, dimana kawan-kawan seperjalanan memilih kopi Turki.

Kekayaan masa lalu, juga dikelola menjadi kekayaan masa kini. Dimana bangunan tetap terpelihara dan justru menjadi destinasi wisatawan. Bolehjadi ini juga menjadi daya tarik.

Dalam sepuluh hari perjalaan di tiga kota Turki, menemukan betapa warisan masa lalu tetap dinikmati hingga kini.

BACA:  Qurban dan Juga Pengembangan Peternak, Ibadah dan Juga Sekaligus Pemberdayaan

Masjid yang telah terbangun di abad-bada sebelumnya membawa suasana masa lalu yang dapat dinikmati kini. Meluruskan kaki usai shalat seolah-olah membawa pusaran waktu ke masa lalu. Seperti ketika menjejakkan kaki di Konya dengan masjid dari kesultanan Selcuk. Sementara di Bursa yang menjadi awal kesultanan Utsmaniyah.

Bahkan dalam sepekan terakhir dimana jika di dunia internasional Turki dinamakan Turkey, kemudian disampaikan secara resmi ke PBB dengan nama Turkiye. Walaupun bercanda namun asosiasi Turki dengan kalkun sebagai terjemahan Turkey juga menggangu “perasaan”.

Ini akan menjadi penjelasan dimana Erdogan selalu saja menemukan kesempatan untuk gimmick politik yang kemudian menggugah para pemilihnya.

Namun ketika kesempatan kali ini bukan tentang politik itu.

Pada sisi lain, ingatan masa lalu di rawat dengan pelbagai media. Diantaranya dengan sinetron yang kemudian justru menjadi sosialisasi Turki.

Begitu pula dengan Hagia Sophia yang kini kembali jadi masjid.

Dalam kunjungan awal ke Turki hanya dapat menikmatinya dari jauh semasa masih berstatus museum.

BACA:  Perguruan Tinggi, dan Tantangan Pengembangan SDM

Diantaranya adalah soal masa lalu yang tetap dapat dinikmati di masa kini.

Related Posts