Turkiye dalam Krisis Moneter, Antara Stagnasi dan Kemajuan

Akademia.abdulharis.ac.id, Istanbul – Kini satu kali perjalanan bis, dari kartu Istanbul Kart, akan terpotong 7 Lira. Sementara, 3 bulan sebelumnya, hanya dengan 3 Lira.

Tiga bulan terakhir, nilai tukar Lira terhadap mata uang asing semakin menurun. Sebelum ini, senilai Rp. 5.000, kemudian turun hingga sekarang Rp. 800 per Lira.

Kondisi ekonomi di Turki, kalau menggunakan bahasa media sosial, disebut “tidak baik-baik saja”. Ada masalah ekonomi sehingga nilai tukar terhadap mata uang asing turun dari waktu ke waktu.

Itu satu hal, saya bepindah ke hal lain. Sepagi ini waktu Turkiye, mempercakapkan tentang kebangkitan Islam di Turkiye.

Dalam politik Islam, AKP berhasil menjadikan Turkiye sebagai simbol keislaman. Walaupun bukan sesuatu yang sama sekali baru. Dimana Turkiye mewarisi modal sosial dari Turki Utsmani, dan juga sebelumnya Selcuk.

Hanya saja, dengan kekuasaan di tangan AKP, melakukan pelbagai langkah politik termasuk mengubah konstitusi dan melaksanakan referendum untuk lagi-lagi mengubah konstitusi.

Kekuasaan yang diperolehnya melalui pemilihan umum kali pertama, kemudian dijadikan landasan untuk mempertahankan kekuasaan. Bahkan dengan cara mengubah konstitusi. Dalam konteks berbeda, sebagaimana pula dilakukan penguasa di Rusia.

BACA:  MPP Pemuda ICMI Siap Gelar Rakornas di Banda Aceh

Hanya saja, keberadaan diantara pemimpin politik Turkiye yang sesekali memainkan gimmik kadang juga menjadi sebuah kelucuan tersendiri. Bahkan turut memainkan citra politik dengan pelbagai kesempatan.

Padahal, dengan mengubah konstitusi demi syahwat politik, ini bisa diartikan sebagai sebuah kediktatoran. Maka, memaknai kekuasaan AKP yang berlangsung selama dua dekade terakhir sebagai simbol kebangkitan Islam, tidaklah sepenuhnya dapat dimaknai seperti itu.

Begitu pula dengan turunnya nilai tukar pada mata uang asing. Ini juga menjadi sebuah tanda tanya bagaimana “krisis moneter” saat ini menjadi isu dalam kampanye pemilihan umum yang akan datang 2023.

Masa itu, akan menjadi ujian bagaimana AKP dan Erdogan menjalani kekuasaan yang memasuki tahun ke-21.

Related Posts