Urgensi Sekolah Ramah Anak

Sekolah bukan hanya tempat interaksi guru dan siswa untuk mentransfer dan memperoleh ilmu pengetahuan, sekolah merupakan tempat pembinaan bagi siswa untuk membentuk karakter yang baik dan mengembangkan keterampilannya agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya sekolah terkadang bukan menjadi tempat yang aman bagi siswa. Kekerasan di sekolah masih sering terjadi diantaranya kekerasan antar siswa dan kekerasan yang dilakukan oleh guru.

Pada awal tahun 2023 ini Federation Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat sebanyak 10 kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi di satuan pendidikan selama periode 1 Januari hingga 18 Februari 2023. Kekerasan seksual ini terjadi di satuan pendidikan berasrama maupun nonasrama. Hal ini membuktikan semakin maraknya dehumanisasi di ranah pendidikan.

Praktisi pendidikan khususnya pemerintah telah berusaha menghidupkan kembali aktivitas pendidikan melalui cara-cara pendidikan yang betul-betul mencerdasakan dan dapat dinikmati oleh peserta didik, salah satu diantaranya adalah program SRA. Sekolah ramah anak sebagai model pendidikan yang berkemajuan merupakan bagian dari program UNICEF yang dikembangkan agar anak mendapatkan hak yang layak dalam memperoleh pendidikan.

BACA:  Geopark Maros Pangkep Resmi Ditetapkan UNESCO, Dewan Pendidikan Kab Maros Apresiasi Kolaborasi Triple Helix

Latar belakang pengembangan Sekolah Ramah Anak atau CFS (Child Friendly School) dikarenakan di berbagai Negara di dunia masih banyak anak-anak yang tidak dapat memperoleh pendidikan yang seharusnya. Faktor tersebut diantaranya, lingkungan sekolah yang tidak memenuhi standar, guru yang kurang berkompeten dalam mengajar, adanya hukuman secara fisik, adanya bullying dan sebagainya.

Sekolah ramah anak merupakan bentuk dari program pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah dalam memberikan kenyamanan dan rasa aman kepada siswa dalam belajar dan mengembangkan dirinya. Melalui pelaksanaan pendidikan Sekolah Ramah Anak orangtua tidak perlu cemas ketika menitipkan anaknya disekolah, karena indikator sekolah ramah anak sangat menguntungkan siswa terutama menjamin rasa nyaman dan aman ketika berada di lingkungan sekolah.

Semua memiliki tanggung jawab dalam mendukung program SRA ini. Guru, menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan sekolah ramah anak, dari guru, siswa mendapat pengajaran dan bimbingan dan juga menjadi panutan bagi siswa ketika di sekolah. Pelaksanaan sekolah ramah anak ini dapat dimulai dengan perbaikan mutu sekolah sebagai tempat yang nyaman dan aman bagi siswa hingga pada kualitas sumber daya manusia atau guru untuk penerapan sekolah ramah anak.

Related Posts